Pencapaian Tertinggi: Klise tapi Menenangkan

Apa pencapaian tertinggi dalam hidupmu? Sebuah pertanyaan yang mengusik. Sering saya menghindari pertanyaan serupa ini demi menjaga kedamaian hati. Khawatir jikalau kenyataan jauh dari ekspektasi. Bagaimanapun juga, penting untuk sesekali menengok ke belakang, setidaknya untuk menghargai diri sendiri yang sudah berusaha dengan baik. Tulisan ini adalah salah satu dari rangkaian kontemplasi diri yang disajikan oleh BPN setelah sebelumnya mengulas alasan ngeblog dan harapan terbesar ngeblog.

Apa pencapaian Tertinggi dalam Hidupmu?

Yang muncul pertama kali dalam benak saya saat seseorang bertanya pertanyaan serupa di atas adalah beberapa potongan momen pencapaian materialistis. Tapi, apa itu semua pencapaian tertinggi bagi saya? Apa makna tinggi bagi saya.

Pencapaian tertinggi bagi saya adalah posisi tertinggi dari serangkaian tangga menuju tujuan utama yang diharapkan, yang bisa jadi belum tercapai.

Pencapaian tertinggi

Jadi, betapa pun baiknya pencapaian saya menurut orang lain, jika tidak membantu saya menuju ultimate goal, maka saya menganggap pencapaian tersebut tidak termasuk yang saya perhitungkan. Jadi, apa pencapaian tertinggi yang telah saya capai sampai dengan saat ini?

Pencapaian tertinggi

Menjadi Ibu Rumah Tangga mungkin tampak klise dan tidak istimewa bagi sebagian orang. Tapi, bagi saya, permulaan kemajuan progresif saya berawal dari sini.

Pun ketika memutuskan menjadi Ibu Rumah Tangga bukan hal sederhana. Banyak kendala yang perlu diselesaikan. Juga tidak selalu didukung bahkan oleh keluarga sendiri.

Kendala yang Menyertai

Kendala paling berat berasal dari orang tua dan keluarga dekat. Pada saat memutuskan menjadi Ibu Rumah Tangga, saya berada dalam kondisi pekerjaan yang baik, latar belakang pendidikan yang baik, dan penghasilan yang baik. Saya bisa bekerja lebih keras dan mungkin mendapatkan karir yang jauh lebih baik. Saya bisa dengan leluasa melanjutkan kuliah lagi atau berusaha mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan pengalaman sekolah di negara tertentu.

Semua kemungkinan tersebut terbuka luas, tapi saya memilih melakukan hal sebaliknya. Berhenti bekerja dan merasa cukup telah menempuh pendidikan dengan gelar magister ekonomi. Tidak disangka, ada banyak kebaikan yang hadir setelah saya memutuskan berkegiatan penuh di rumah. Diantaranya adalah merasa cukup dan ketenangan.

Saya sempat khawatir apakah kondisi ekonomi kami akan baik-baik saja setelah saya berhenti bekerja. Ternyata betul yang dikatakan Pak Ustadz, rezeki itu sudah ditakar. Apa-apa yang dirasa tidak cukup, akan Allah cukupkan. Jika sudah merasa cukup, maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Kondisi merasa cukup ini juga menimbulkan ketenangan. Suami juga merasa tenang karena istrinya ada di rumah bersama anak-anak. Saya juga merasa tenang karena meng-handle sendiri urusan rumah dan anak-anak. Saya selalu mengidam-idamkan perasaan tenang seperti ini setelah pernah berlama-lama gelisah tidak menentu. Tidak perduli betapa keluarga dan orang lain menyayangkan pendidikan yang telah saya tempuh selama ini.

Bagi saya, pendidikan saya adalah untuk investasi saya dalam mendidik anak-anak. Pekerjaan saya menjadi tidak produktif di kala saya harus meninggalkan anak-anak untuk diurus orang lain. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jika segala pencapaian yang terlihat baik tidak mendukung saya mencapai tujuan utama (ultimate goal), maka itu bukanlah pencapaian yang saya perhitungkan. Maka, apa sebenarnya yang saya cari? Apa yang saya dambakan? Apa ultimate goal saya?

Ultimate Goal

Saya menyadari, penciptaan saya oleh Allah pastilah ada maksud tertentu. Ada misi yang harus saya selesaikan. Saya yakin tidak sekadar remeh temeh urusan dunia semata. Maka, saya melihat misi tersebut ada pada anak-anak saya. Pada generasi penerus yang bisa jadi turut serta dalam mengembalikan kejayaan islam kelak.

Maka, saya meletakkan tujuan saya lebih tinggi, semoga tidak terlalu berlebihan. Saya berharap saya mampu mendidik anak-anak menjadi generasi yang terlibat dalam memajukan dan mengembalikan kejayaan islam seperti berabad-abad yang lampau.

Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah dan sebentar. Perlu kesabaran. Perlu fokus. Perlu konsistensi. Dengan melihat latar belakang saya, mungkin jalan ke depan sangat tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin.

Maka, saya menilai keputusan saya menjadi Ibu Rumah Tangga adalah keputusan yang cukup berani (karena mendapatkan pertentangan besar dari keluarga) dan tidak populer. Tapi sekali lagi, saya perlu fokus pada tujuan utama yang ingin diraih.

Semoga Allah ridho atas apa-apa yang saya lakukan. Kamu punya pencapaian tertinggi apa sampai dengan saat ini? Boleh komen di bawah kalau berkenan untuk berbagi kisah juga. Semoga Allah lancarkan urusan-urusan kamu dan aku juga ya. Terima kasih sudah membaca!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *