Akhirnya Kami Swab

Swab

Halo! Tulisan ini adalah tulisan ketiga tentang perjalanan kami sekeluarga yang bersinggungan dengan covid-19. Sebelum melanjutkan membaca, mungkin ada baiknya jika kamu ceki-ceki tipis tulisan sebelumnya tentang gejala awal dan hasil tes swab suami. Yuk lanjutin baca ceritanya tentang persiapan tes swab dan akhirnya tes swab juga saya dan anak-anak.

Kenapa Memutuskan Swab?

Pertimbangan pertama kenapa saya memutuskan swab adalah kami kontak erat dengan suami (ayahnya anak-anak). Walaupun suami sempat pisah kamar tidur dan memakai masker ketika di rumah, tetap saja ada kontak anak-ayah yang kadang tidak bisa dihindari atau lupa dihindari.

Alasan kedua adalah kami serumah bergejala. Dimulai dari saya yang demam selama 2 hari (lengkap gejala saya ada di tulisan sebelumnya), lalu suami demam selama 5 hari, dilanjut Ibrahim (anak sulung) demam selama 1 hari, dan terakhir Dawud (anak bungsu) demam selama 1 hari. Selain demam, ada gejala lain pada anak-anak yang terlihat. Ibrahim sempat pilek 1-2 hari. Dawud, sampai dengan tulisan ini tayang, sudah 6 hari mencret. Selain itu, anak-anak berkegiatan normal dan cenderung aktif.

Alasan ketiga adalah hasil swab dapat digunakan sebagai bahan rujukan apakah kami akan melanjutkan isoman atau sudah bisa berkegiatan seperti biasanya. Dengan begitu, kami akan lebih tenang ketika keluar rumah.

Diserang Ragu pada Hari H Tes Swab

Hari Jumat tiba. Hari itu jadwal saya dan anak-anak tes swab di puskesmas Seroja pukul 09.00 WIB. Bangun tidur kepala saya disisipi pikiran: kalau dihitung-hitung, ini hari ke-10 sejak gejala pertama, kenapa ga sekalian aja swab di hari ke-14 aja? Biar kemungkinan hasilnya negatif lebih besar. Saya pikir ada betulnya juga.

Segera saya hubungi pihak puskesmas untuk diskusi dan mencari tahu apa bisa jadwal swab diatur ulang. Sayangnya, jadwal swab tidak bisa di-reschedule. Pihak puskesmas menjelaskan, virus covid-19 aktif menularkan pada hari ke-2 hingga hari ke-5 sejak gejala pertama. Jika pun pada hari ke-10 dilakukan swab dan nantinya hasilnya positif, kemungkinan besar itu adalah virus yang sudah tidak menular. Jika dalam waktu 10 hari ke depan sejak swab, saya dan anak-anak tidak ada lagi gejala, maka tidak perlu lagi dijadwalkan swab kedua. Artinya, kami bisa selesai isoman dan beraktivitas seperti biasanya. Begitu kira-kira penjelasannya.

Okelah. Kami akhirnya swab.

Swab di Puskesmas Tidak Antre Loh!

Dengan taksi, kami berkendara menuju puskesmas. Sesampainya di sana, kami diminta cuci tangan dan masuk ke dalam bilik yang tersedia untuk disemprot disinfektan. Setelahnya, saya diminta menyerahkan dokumen persyaratan dan mengisi buku tamu. Beberapa detik kemudian, kami diarahkan langsung ke ruangan tes untuk langsung diswab. Ga pake antre loh!

Karena saya tidak ada pendamping, maka saya dites lebih dulu lalu anak-anak. Untuk anak-anak, sebaiknya dipangku sambil agak direbahkan agar petugas medis mudah mengambil sample. Sakit ga? Iya dong! Sakit dan kaget..wkwkwk.

Setelahnya, kami diinformasikan bahwa hasil swab akan diterima 3-7 hari ke depan. Dari puskesmas akan menghubungi saya segera jika hasil telah keluar. Lalu, kami dapat langsung pulang! Sesederhana itu, tanpa antre dan tanpa lama. Tidak ada konsul dokter karena hari sebelumnya sudah konsul via whatsapp dan beberapa obat yang diperlukan sudah diberikan.

Menunggu Hasil Swab.

Selama menunggu, saya tetap rajin minum air kelapa hijau, uap minyak kayi putih, minum susu beruang, minum obat, menjaga sirkulasi udara di ruangan (setiap pagi buka jendela kamar dan jendela lainnya), dan memantau gejala pada anak-anak.

Pada rentang waktu tersebut, penciuman saya sudah kembali. Kira-kira 6 hari anosmia. Batuk juga sudah jauh berkurang, hanya setiap pagi dan tidak intens. Anak-anak masih seperti biasa kecuali Dawud yang masih mencret setiap pagi.

Hari ke-3 Pasca Swab.

Sejak pagi, keluarga, teman-teman, tetangga yang perhatian pada kami menanyakan apa hasil swab sudah ada. Sejak pagi hingga malam saya mahir menjawab: belum ada ni. Mungkin besok. Saya juga ikutan penasaran, tapi harus tetap bersabar. Pukul 21.54 WIB masuk chat dari perwakilan puskesmas mengabarkan hasil swab. Hasilnya: saya negatif, Dawud positif, dan Ibrahim hasilnya masih perlu konfirmasi dokter.

Saya agak kaget. Dawud positif. Lalu terbayang Dawud yang suka melepeh makanan. Dawud yang suka makan mainan. Dawud yang kalau menangis hingga berliur. Itu kondisi liur Dawud bisa ada dimana-mana. Alamak! Mesti bagaimana ini ya? Lalu, Ibrahim bagaimana? Kenapa perlu konfirmasi dokter?

Semoga ceritanya bisa dilanjut lagi nanti ya. Mohon doanya ya teman-teman.

10 comments

  1. Pei dan keluarga psti bisa melewati ini dengan mudah dan cepat. Yang kuat yang pei sayang. Dawud dan ibrahim anak sholeh dan hebat!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *