Review Novel Ayah

Review novel Ayah ini sebagai selingan setelah beberapa hari yang lalu menulis jurnal covid.

Bacaan pertama saya di tahun 2021 ini adalah sebuah novel karya Andrea Hirata berjudul Ayah. Bukan novel baru sebenarnya, tapi novel Ayah ini merupakan rekomendasi bacaan dari seorang sahabat yang belum sempat dibaca. Saya pernah mencari novel ini di aplikasi ipusnas, tapi antreannya lumayan panjang. Heu. Akhirnya, pada suatu hari saya mendapatkan buku ini lewat kisah yang unik (ceritanya bisa dibaca di sini). Semoga review novel Ayah berikut bermanfaat bagi yang membutuhkan ya.

  • Judul Buku: Ayah
  • Penulis: Andrea Hirata
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • Tahun Cetak: 2015 (Cetakan Pertama)
  • Genre: Fiksi (Novel)

Sabari si Pria Tangguh dalam Mencinta.

Sejak awal membaca novel ini, saya mulai menduga-duga, siapa sosok Ayah yang ingin dibicarakan oleh penulis. Di awal diceritakan kisah tentang Sabari yang cuek tiba-tiba menjadi gila karena jatuh cinta. Ialah Marlena, seorang gadis yang begitu saja mengisi hati dan kepala Sabari sejak kejadian tidak biasa di suatu hari kala ujian SMA.

Perilaku Sabari menjadi tidak biasa karena jatuh cinta. Marlena diberondong perhatian dan kekaguman dari Sabari. Bukannya senang, Marlena menjadi benci setengah mati kepada Sabari. Dikirimkannya Marlena puisi. Dibalas oleh Marlena dengan makian: majenun!

Sabari yang gigih kian tidak putus asa mengambil hati Marlena. Pun dengan Marlena, semakin muak dengan Sabari. Rasa cinta Sabari tetap awet hingga lulus sekolah. Dicarinya cara agar ia bisa tetap dekat dengan Marlena. Jadilah ia melamar bekerja di suatu pabrik batako milik Markoni, bapak dari Marlena. Lokasinya strategis: di samping rumah Marlena.

Semakin hari semaki giat Sabari bekerja untuk membuat Marlena bangga. Hingga pada suatu hari Marlena diminta menikah oleh Markoni. Lalu, bagaimana dengan Sabari? Apakah ia menjadi majenun seperti umpatan Marlena padanya? Lalu siapa sosok Ayah yang ingin diceritakan oleh penulis? Boleh ya dibaca novelnya kalau penasaran.

Sosok Ayah di dalam Novel Ayah.

Review Novel Ayah: Sosok Ayah
Sosok Ayah di dalam Novel Ayah

Saya harus jujur, sampai di tengah-tengah cerita, saya menjadi agak kesal karena tidak menemukan sosok Ayah yang menjadi sentral cerita. Tapi saya pikir-pikir, ada kisah Amiru di awal cerita yang cukup menarik. Amiru yang berusaha keras agar Ayahnya bisa mendengarkan siaran radio dari sebuah radio yang telanjur digadai.

Saat itu Ibu Amiru jatuh sakit dan perlu dirawat. Keluarga miskin seperti mereka tidak punya cukup uang untuk membiayai pengobatan Ibu Amiru. Satu-satunya barang berharga mereka adalah sebuah radio usang kesayangan Amirza, Ayah Amiru. Amirza selalu gembira ketika mendengar siaran radio. Amiru sedih ketika rumah tidak lagi ceria tanpa siaran radio dan kegembiraan Amirza. Dengan segala upaya anak usia 10 tahun, ia mencoba menebus kembali radio yang sudah tergadai.

Tapi, kisah Amiru dan Amirza timbul-tenggelam. Saya rasa, Amiru-Amirza bukanlah kisa sentral yang ingin disampaikan penulis. Lalu saya menemukan kisah Markoni, ayah Marlena.

Markoni yang bebal sewaktu kecil akhirnya menyesal karena tidak mendengarkan nasihat ayahnya. Berbekal pengalaman itu, ia menjadi keras dalam mendidik anak-anaknya, termasuk Marlena.

Tapi, kisah itu pun hanya secuplik. Setelah pertengahan novel, barulah cerita berpusar pada Sabari sebagai seorang Ayah (penasaran ga kenapa Sabari bisa jadi Ayah? Dia menikah dengan siapa?).

Di akhir cerita, saya berubah pendapat. Sebaran berbagai kisah Ayah tersebut justru memperkaya cerita.

Yang Menarik dari Novel Ayah.

1. Bahasa yang Indah

Saya kira tidak perlu diragukan lagi kemampuan Andrea Hirata memilih kata. Membaca Novel ini saya dibuat kagum akan keindahan bahasanya. Belum lagi karakter Sabari, Ayah Sabari, dan Zorro diceritakan gemar berpuisi, jadilah beberapa puisi indah menghiasi novel ini. Salah satu kesukaan saya adalah puisi Ayah Sabari:

Waktu dikejar

Waktu menunggu

Waktu berlari

Waktu bersembunyi

Biarkan aku mencintaimu

Dan biarkan waktu menguji

Novel ‘Ayah’ halaman 64

2. Cerita yang Manis

Saya cukup terhibur membaca keseluruhan cerita di novel ini. Sederhana tapi sarat makna. Tentang hubungan keluarga, tentang kemampuan memotivasi diri, dan tentang memaknai bahagia.

Saya punya kebiasaan buruk dalam membaca novel. Jika cerita terasa membosankan, seringnya proses membaca langsung dihentikan dan entah kapan dilanjutkan lagi. Tapi, membaca novel ini mengasyikan. Seperti sedang berkendara ke suatu tujuan sembari menikmati pemandangan memanjakan mata.

3. Karakter yang Menarik

Sabari tentu saja menjadi karakter favorit saya. Entah apa betul ada orang macam Sabari di dunia ini. Setia, tekun, percaya diri, dan tentu saja sabar (sesuai kan dengan namanya?!).

Tokoh lainnya yang menarik adalah Marlena. Saya sempat terbawa kesal dengan Marlena ini. Sampai-sampai saya berharap, semoga Sabari menemukan wanita lain untuk dicintai.

Tapi kemudian saya melihat Marlena sebagai seorang wanita yang tangguh. Perjalanannya bersama Zorro semakin menguatkan karakter Marlena.

Satu lagi tokoh yang perlu disebutkan adalah Izmi. Si pengagum rahasia yang pandai mengambil pelajaran dari kegigihan seseorang. Sayang sekali porsi ceritanya tidak terlalu banyak. Mungkin jika Izmi dibuatkan novel sendiri akan menjadi menarik.

Novel ini layak untuk dibaca hingga selesai. Saya jadi tertarik untuk membaca karya lainnya dari Andrea Hirata. Semoga review novel Ayah ini bermanfaat bagi kamu ya.

6 comments

  1. Sebanyak itu karakternya, kadang-kadang suka balik mundur halaman, hehehehe. Yak, si ‘Ayah’ ini menghibur dan menyentuh.

    1. Jonpijareli, markoni, toharun, tamat, ukun, zuraida, izmi, pengantar surat pengadilan agama. Nah iya, menyentuh!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *