Review Rahasia Diary Pegon

Review Rahasia Diary Pegon

Haii..ketemu lagi di tulisan ini! Kali ini saya mau cerita tentang review Rahasia Diary Pegon. Sebelum ini ada beberapa buku juga yang sudah direview, kamu bisa lihat di sini ya. Ini sebuah buku yang saya dapatkan dari sebuah lelang buku. Saya belum pernah baca review buku ini sebelumnya, pun belum pernah baca karya yang lainnya dari penulis ini. Cuma, ga tau kenapa, sewaktu lelang buku itu kayak pernah tau nama penulis ini di mana gitu. Jadi, yaudah coba deh beli bukunya. Buku sampai di tangan saya sejak Januari 2021 dan baru mulai baca 4 hari yang lalu karena ada buku yang pengin banget dibaca duluan..hehehe. Buat kamu yang pengin tahu reviewnya, selamat membaca ya!

  • Judul Buku: Rahasia Diary Pegon
  • Penulis: Machtumah Malayati
  • Penerbit: DIVA Press
  • Tahun Cetak: 2018 (cetakan pertama)
  • Jumlah Halaman: 232 halaman
  • Genre: Fiksi (Novel)

Mengungkap Rahasia sebuah Diary dengan Huruf Pegon

Nur Laila, seorang gadis tidak beribu baru saja kehilangan ayahnya dalam sebuah kecelakaan. Karena tidak memiliki sanak saudara di Surabaya, ia diminita pulang ke Jombang tempat Nenek dan Bibinya tinggal.

Sebagai gadis kota, Nur Laila merasa canggung tinggal di desa ditambah lagi sinyal ponsel yang kurang bagus. Neneknya, Mbah Bin, pun dinilai Nur kurang ramah dan sering ketus pada Nur, entah apa salahnya Nur. Nur merasa tidak memiliki kawan seumuran dengannya. Yang ada hanyalah anak-anak kecil sepantaran Farid, sepupunya, yang juga teman-teman mengajinya.

Lama kelamaan Nur tidak kerasan. Ia ingin kembali saja ke Surabaya dan mengadu nasib dengan tinggal seorang diri di kota tersebut. Tapi kemudian ia menemukan sebuah diary milik Ibunya, Nihayah.

Nur ditinggal meninggal oleh Ibunya sejak ia dilahirkan. Nur yang tidak mengenal betul ibunya merasa menemukan harta karun. Diary ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi tentang ibunya.

Tidak seperti harapan Nur, diary tersebut ternyata tidak dapat dibaca oleh Nur karena dituliskan dengan huruf pegon. Nur batal kembali ke Surabaya dan bertekad untuk belajar huruf arab dan huruf pegon agar mampu membaca diary peninggalan Ibunya.

Apa sebenarnya isi diary tersebut? Kenapa Nur tidak mau menanyakan perihal ibunya langsung kepada Neneknya? Apa ada rahasia besar pada diary tersebut?

Biar ga spoiler, kamu bisa baca sendiri ya kisahnya 😀

Review Rahasia Diary Pegon: This book is not my type

Sejak awal membaca, saya sudah bisa merasakan bahwa buku ini just not my type. Setidaknya ada beberapa hal kenapa buku ini bukan tipe buku yang saya gemari.

Visualisasi, Alur, dan Setting yang Membingungkan

buku ini di awal agak membingungkan dan tidak terlalu nyaman. Saya kurang bisa memvisualisasikan Nur datang ke desa. Tidak dituliskan jelas bagaimana fisiknya, rambutnya, pakaiannya, rupa wajahnya, warna kulitnya, usianya (terkait usia baru disampaikan di bagian tengah buku: 18 tahun) dan lainnya.

Begitu juga dengan penokohan yang membingungkan. Pemeran tambahan terlalu banyak dan tidak terlalu kuat penokohannya. Bagaimana jika Alda tidak ada? Apakah cerita bisa berjalan dan baik-baik saja? Saya rasa tidak ada Alda pun cerita tetap bisa berjalan. Begitu juga dengan teman-teman Gilang dan Fikri, mereka seperti tempelan untuk menunjukkan kondisi desa yang riuh anak-anak bermain dan mengaji di waktu tertentu. Tapi..porsi mereka terlalu banyak sehingga mengaburkan inti cerita.

Ketika membaca judul, saya berharap ada kisah tertentu tentang rahasia seseorang yang disembunyikan lewat diary bertuliskan huruf pegon. Kisah yang tidak biasa, misalnya, atau kisah tentang tragedi atau apa gitu. Ternyata tidak. Cerita jadi terkesan ngalor ngidul pada kondisi Nur dan tokoh tambahan. Rahasia yang diungkap malah muncul belakangan dengan porsi yang (relatif) sangat sedikit, bahkan sudah bisa ditebak ketika diary yang dibaca tidak lengkap karena tersobek (atau disobek?).

Hal lain lagi yang membuat saya kurang sreg adalah kenapa Nur lama sekali mencari tahu cara membaca huruf pegon? Bukankah Nur anak kota yang akrab dengan ponsel pintar? Itu lagi tentang setting waktu, tidak jelas kisah Nur ini terjadi kapan. Hanya saja ada momen di mana Nur berusaha keras mencari sinyal ponselnya. Saya menduga saat itu ponsel pintar sudah jamak digunakan, setidaknya bagi orang kota.

Pengalaman Membaca yang Kurang Nyaman.

Kenapa bisa membaca buku menjadi tidak nyaman? Karena penulis terlalu banyak menggunakan pengandaian sehingga kalimat terlalu berbunga atau kalau anak jaman sekarang menggunakan istilah lebay. Akibatnya, saya sering buru-buru membaca menghindari kata-kata yang terlalu berlebihan yang digunakan untuk menggambarkan satu kata saja.

Saya sempat terpikir untuk menutup buku dan mengganti dengan buku lain. Hanya saja, saya lihat buku tidak terlalu tebal, mungkin saya masih bisa bertahan menguasai perasaan. Yak, ini juga lebay sih. Wkwkwkwk.

Narator yang Ternyata Tidak Segala Tahu

Cerita dalam buku ini dikisahkan oleh narator yang tadinya saya kira tahu segala hal (bahkan isi hati tokoh yang diceritakan). Akan tetapi, pada halaman 123 dituliskan begini:

Rasanya Mbah Bin memang sering linu-linu.

Rahasia Diary Pegon Halaman 123

Penggunaan kata rasanya agaknya kurang cocok untuk seorang narator segala tahu. Saya jadi ragu, apa betul ini narator yang tahu segala?

Di lain halaman, terlihat narator cenderung ekspresif dan bahkan mencoba melucu:

Semuanya diam bagai santri yang tunduk pada kiainya…, eh, bu nyainya.

Rahasia Diary Pegon Halaman 93

Lumayan menghibur juga sih naratornya 😀

Sampul Buku yang Kurang Representatif

Pada sampul buku yang ditata oleh Amalina, ada seorang gadis (awalnya saya menduga dia adalah anak kecil, mungkin karena posisinya sedang duduk) yang duduk di atas halaman buku yang tertulis garis-garis. Dari sampul, saya tidak mengetahui apa itu pegon, saya kira suatu bahasa tertentu. Saya kira, jika dituliskan contoh huruf pegon (Diary Nihayah, misalnya) di atas halaman buku tersebut akan lebih menarik.

Tokoh tambahan yang mengambil banyak porsi dari cerita buku juga tidak muncul pada sampul. Jadi, saya agak kecele di awal dengan sampul buku ini dan berharap banyak dengan kisah yang terkandung pada diary tersebut.

Salah Judul Lagu

Bagian ini sebenarnya minor banget sih tapi cukup memerlihatkan kalau penulis kurang lengkap risetnya, atau mungkin salah ketik kah? Di halaman tertulis lagu Frente! adalah Bizarre to Love (halaman 94), seharusnya judul lagu tersebut adalah Bizarre Love Triangle. Anak 90-an pasti ngeh banget deh ya. Wkwkwkwk.

Jika memang salah ketik, mungkin ini salah satu masukan untuk mba Muhajjah Saratini sebagai penyunting. Semoga semakin baik lagi ke depannya.

Yang Menarik dari Rahasia Diary Pegon

Walaupun saya kurang nyaman di awal dengan buku ini, lama kelamaan saya bisa menguasai diri dan menyelesaikan membaca hingga akhir. Ada yang menarik dari buku ini yaitu tentang huruf pegon. Saya yang kurang pengetahuan ini baru tahu tentang huruf pegon dari buku ini. Saya sempat juga loh browsing tentang huruf pegon dan cara membacanya bahkan sebelum saya sampai pada bagian di mana Nur akhirnya bisa membaca huruf pegon. Saya jadi tertarik juga menulis dengan huruf pegon, mungkin suatu waktu saya bisa ikutan Nihayah nulis diary menggunakan huruf pegon 😀

Sumber: wikiwand.com

Gimana setelah baca ulasan di atas? Pengalaman membaca saya bisa jadi berbeda dengan pengalaman membaca kamu. Bagi kamu yang punya pandangan berbeda tentang buku ini, boleh ya komen di bawah biar saya juga lebih luas pandangannya. Semoga review Rahasia Diary Pegon ini bermanfaat buat kamu ya. Sampai ketemu lagi, insya Allah!

Published
Categorized as Bacaan

2 comments

  1. Aku baru tau istilah pegon. Dulu Baba Somad jago banget tulisan itu (arab melayu) disebutnya. Kayaknya mertua tercintamu juga bisa.

    Salam.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *